Akulah sungai…
Jernih dan selalu mengalir
Setiap tapakan langkahku
Selalu bercengkrama dengan hutan
Dia sahabatku
Aku tak memilih batu-batu yang ada di tengah aliranku
Tapi aku memilih hutan untuk bersenda gurau
Diantara malam dan siangku…
Suatu malam
Aku bercerita pada sang hutan diantara tiupan angin yang lembut
Ku bilang padanya bahwa aku mencintai laut
Tujuan hidup ku adalah laut
Walupun kami diciptakan dari jenis yang sama yaitu “air”
Aku berhenti mengalir sejenak untuk bercerita
Tentang laut pada sang hutan
“Hai hutan. Taukah kamu bahwa laut itu adalah jiwaku. Betapa aku kagum padanya”aku bergemuru sejenak. Hutan hanya tergelak
“Kalian itu sama. Mana mungkin?”
“Cinta yang menyatukan kami” aku menari-nari riang dengan memercikkan airku pada hutan
“Kalian pernah bertemu?” Tanya hutan heran
“Tidak. Tapi aku mengenalnya. Dia selalu menitipkan salam lewat hujan padaku”
Hutan terdiam. Aku melihat ada yang berbeda dari sorot mata nya. Ilusi dan obsesi…
Perih…
Kuhantam bebatuan hingga hancur berkeping-keping
Ku trobos hutan dengan garang hingga bertumbangan
Hutan menghiantiku
Tega dia bercinta dengan sang laut
sebelum aku mengalirkan air sungaiku ke bibir pantai
“kita adalah sahabat. Kita harus bicara”hutan mengejarku
Aku tenggelam oleh air mataku
“biarkan dia pergi” laut menahan hutan. Sakit…
Kecewa menggerayangiku
Hingga aku menjadi begitu buas
Ingin ku tenggelamkan bumi
Sayang aku aku tak punya cukup air
Karena aku hanya sungai kecil
Aku sungai yang kecil
kini mencoba mengalir tenang
Antara kepedihan dan keperihan disudut hati
Aku sungai kecil hanya lewat hutan dengan kebisuan
Sepi dan sunyi…
Setiap kali hutan menyapa
Aku hanya diam sambil terus berjalan
Laut pun tak mengirim salam…
RSS Feed (xml)
0 komentar:
Poskan Komentar